Selasa, 28 Februari 2012

Jaranan Dan Representasi Abangan

Kediri - Jaranan pada jaman dahulu adalah selalu bersifat sakral. Maksudnya selalu berhubungan dengan hal-hal yang sifatnya gaib. Selain untuk tontonan dahulu jaranan juga digunakan untuk upacara-upacara resmi yang berhubungan dengan roh-roh leluhur keraton. Pada jaman kerajaan dahulu jaranan seringkali ditampilkan di keraton.
Dalam praktek sehari-harinya para seniman jaranan adalah orang-orang abangan yang masih taat kepada leluhur. Mereka masih menggunakan danyangan atau punden sebagai tenpat yang dikeramatkan. Mereka masih memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap roh-roh nenek moyangnya. Mereka juga masih melaksanakan praktik-praktik slametan seperti halnya dilakukan oleh orang-orang dahulu.
Pada kenyataanaya seniman jaranan yang ada di kediri adalah para pekerja kasar semua. Mereka sebagian besar adalah tukang becak dan tukang kayu. Ada sebagian dari mereka yang bekerja sebagai sebagai penjual makanan ringan disepanjang jalan Bandar yang membujur dari utara ke selatan.
Cliford Geertz mengidentifikasi mereka dengan sebutan abangan. Geertz memberikan penjelasan tentang praktik abangan. Masayarakat abangan adalah suatu sekte politio-religius dimana kepoercayaan jawa asli melebur dengan Marxisme yang Nasionalistis ynag memungkinkan pemeluknya sekaligus mendukung kebijakan komunisdi Indonesia. Sambil memurnikan upacara-upacara abangan dari sisa-sisa Islam (Geertz 1983).
Dalam perkembanganya kesenian jaranan mengalami pasang surut. Hal ini disebabkan kondisi social masyarakat yang sudah berubah dalam memaknai dan mengambangkan jaranan. dari tahun-ke tahun jaranan mulai berubah dari yang sifatnya tuntunan menjadi tontonan dan yang paling menarik adalah jaranan sebagai alat untuk menarik simpatisan dan untuk pengembangan pariwisata.
Jaranan pada tahun 1960-an menjadi alat politik PKI untuk menopang kekuasaanya dan menarik masa. Pada tahun-tahun itu kebijakan Sukarno tentang Nasakom sangat mempengaruhi keberadaan lembaga-lembaga yang ada di bawah. Dari nasionalisme, Agama dan komunis ini, memiliki lembaga-lembaga sendiri. Kelompok itu memiliki basis kesenian sendiri-sendiri. Lekra, lesbumi dan LKN adalah lembaga kesenian yang ada di tingkat bawah.
Pada tahun itu jaranan sudah ada dan kebetulan bernaung dibawah pengawasan Lekra. Jaranan pada saat itu sudah sangat digemari masyarakat. Bahkan dikediri pada saat itu sudah berdiri beberapa kelompok jaranan. kelompok jaranan ini banyak digawangi oleh orang-orang yang berada di lembaga kesenian. Dari ketiga lembaga kesenian yang ada, semuanya memiliki kesenian sendiri-sendiri yang sesuai dengan misinya masing-masing.
Pada tahun 60an itu masing-masing kelompok jaranan berkontestasi dengan sehat. Walaupun mereka berasal dari lembaga kesenian yang berbeda, tapi pada saat itu mereka masih bisa berbagi ruang dan berkontestasi. Mereka saling mendukung dan mengembangkan kreatifitasnya dalam berkesenian.
Jaranan pada saat itu masih tampil dengan polos sekali. Pemainya hanya mengenakan celana kombor dan tanpa make up. Tidak ada batas antara pemain, penabuh dan penonton. Mereka sama-sama berada di tanah. Mereka bisa saling tukar main antara satu dengan lainya. Berbeda dengan jaman jepang pada yang masih menggunakan goni sebagai pakaiannya. Pada tahun-tahun 60an jaranan bisa tampil vulgar di manapun dia berada.
Pada tahun 1965 terjadi peristiwa pembersihan dari kalangan agamawan kepada kelompok-kelompok abangan. Pembersihan ini dilakukan tas kerjasamama Negara dengan kaum agamawan. Akibat dari pembersihan itu masyarakat abangan yang ada di Kediri pada saat itu sempat kocar-kacir. Terlebih pada orang-orang yang memang bergelut di lembaga PKI ataupun pernah terlibat.
Orang-orang yang terlibat sebagai anggota partai komunis dibunuh. Para seniman-seniman yang berada dibawah PKI yaitu Lekra dihabisi semua. Danyangan dan beberapa punden banyak yang dirusak. Bahkan patung-patung dan arca yang sekarang berada di museum Airlangga terlihat banyak yang hancur. Ini adalah akibat pertikaian politik 1965. segala property yang berhubungan dengan tradisi orang abangan dimusnahkan. Termasuk didalamnya adalah jaranan.
Setelah kejadian berdarah tahun 1965 itu jaranan yang dahulu adalah kesenian yang sangat dibangggakan masyarakat hilang seketika. Jaranan adalah representasi dari kaum abangan yang mencoba untuk memberikan eksistensi dirinya pada kesenian. Mereka benar-benar mengalami trauma yang berkepanjangan. Sehingga kesenian jaranan pada paska 65 mundur. Kondisi politik 65 ini telah membawa jaranan pada titik kemandekanya. Kecuali jaranan yang bernaung di bawah komunis aman dari pembersihan ini. Keberadaan jaranan pada saat itu juga masih relative sedikit. Trauma itu ternyata tidak dirasakan oleh orang-orang yang berasal dar lekra saja. Seniman dari lesbumi dan LKN waktu itu juga agak ketakutan untuk tampil di public. Kebanyakan dari seniman yang ada dikediri pada waktu itu juga berhenti dari kesenian untuk semantara waktu.
Pasca peristiwa berdarah itu seluruh elemen masyarakat memberikan identifikasi yang negatif terhadap kesenian jaranan. dari kalangan agamawan. Para agamawan beranggapan bahwa jaranan itu mengundang setan. Sehingga wajar jika pada saat itu para agamawan terlebih ansor menghabisi seniman-seniman yang berbau komunis di kediri.
Negara yang mulai memberikan pengngontrolan seniman dengan membuatkan Nomor Induk Seniman (NIS) pada kurun waktu tahun 1965-1967. Dengan memberikan NIS ini pemerintah bisa mengontrol lebih jauh seniman yang terlibat dengan komunis. Bagi yang tidak memiliki NIS biasanya mereka dikasih nomor aktif sebagai seniman. “Tanpa memiliki kartu ini, seniman tidak boleh tampil di ruang publik” kata Mbah Ketang.
Praksis paska 65 jaranan jarang sekali tampil di ruang public. Seniman-seniman jaranan yang berasal dari LKN mungkin masih bisa berunjuk kebolehanya di ruang public. Misalnya jaranan Sopongiro di Bandar dan jaranan Turnojoyo Pakelan. Dua jaranan ini bisa eksis dan tidak terberangus pada tahun 65 karena mereka adalah kelompok kesenian yang berasal dari LKN.
Stigmatisasi yang dikembangkan oleh agamawan dan Negara rupanya telah meberangus nalar masyarakat. Paska 65 masyarakat secara tidak langsung memberikan identifikasi negatif terhadap kesenian jaranan. Mereka masih menganggap bahwa kesenian jaranan itu adalah kesenian milik PKI.
Masyarakat tidak mau dicap merah oleh pemerintah dan kaum agamawan sebagai pengikut PKI. Akhirnya kesenian jaranan dijauhi oleh masyarakat.
Pasca terjadi peristiwa berdarah rtahun 1965 itu, kesenian jaranan mulai lumpuh total. Baru pada tahun 1977 jaranan mulai menggeliat lagi. Jaranan menjadi sebyuah idiom baru yang tampil berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jaranan pada tahun sebeliumnya banyak berafiliasi dengan komunis akan tetapi pada tahun itu jaranan mulai menggandeng militer untuk dijadikan alat untuk melindungi dirinya. (EP).

Selasa, 21 Februari 2012

ADELIA MENGGOYANG LAGI

Tulungagung - Masih teringat di benak kita dalam beberapa episode yang lalu seprang artis kecil berbakat dari kota ingandaya  Tulungagung  Adelia (Adel) yang sering menghibur  lewat goyangan serta suara khasnya di Jawa Timur mampu memberi angin segar fans beratnya di kabupaten Blitar .Dalam tampilanya kali ini Adel berperan sebagai artis pendukung music assolole Sagita Djardut yang menampilkan mascot artis Eny sagita dalam rangka santunan anak yatim.minggu 22januari 2012 di desa Gandekan kecamatan  Wonodadi Blitar.
Dengan dukungan penonton yang luar biasa Adel semakin yakin dan mantap penampilanya. Adel yang masih duduk di bangku satu SMP di Tulungagung selain mengikuti dunia tarik suara juga terjun di dunia modeling ,dalam beberapa gelar juara diraihnya dalam beberapa event modeling sow di beberapa kota di Jawa Timur.
Yang mendapat nilai plus adalah tekat dan semangatnya untuk terus berbenah diri dari segala kekuranganya termasuk olahraga untuk menjaga kesetabilan body dan swaranya sehingga beberapa bulan ke depan nanti akan mencoba ikut event  organizer salah satu perusahaan tour sow di beberapa kota di klimantan .Adel memang ada aliran darah seni dari eyang putrinya yang bernama Kelip surati (bek lip) beliau di masa muda nya juga aktif dalam dunia tarik suwara namun sebagai sinden seni tayub dan wayang kulit yang berbekal tekat dan kemandirian sehingga semasa itu juga namanya sempat di kenal di sederetan waranggono Tulungagung.
Dengan punya nama besar dan darah seni yang mengalir  pada diri Adelia .artis yang beberapa tahun di tinggal orang tuanya merantau di luar daerah ini di didik oleh eyangnya, berpenampilan sederhana dan penuh keyakinnan terlihar pada actionya tak pilih pilih .karena adel juga mau di undang untuk menyanyi di acar orang hajatan seperti resepsi pengantin, syukuran, juga acara acara kantor sampai event akbar sekalipun dan di mana pun .ketika di temui Pasopati dirumahnya adel terlihat sangat ceria karena barusan sukses tampil bareng bersama awak dari Sagita yang sudah di kenal masyarakat .dia menuturkan kesuksesanya kali ini berkat dukungan masyarakat  serta penonton yang proaktif, juga teman dan semua kerabat. Juga ucapan terima kasih pada Tabloid Pasopati yang selalu mendampingi dan membantu kelancaran ini semua. (byo)

5 Alasan Kesehatan Berhenti Minum Soft Drink

Jakarta - Minuman ringan alias soft drink sepertinya sudah jadi tren khususnya di kalangan anak muda. Padahal sudah banyak ahli kesehatan yang mengingatkan bahwa soft drink sama sekali tidak sehat, apapun mereknya. Mengapa?
Tak ada manfaat kesehatan yang dapat diperoleh dari soft drink atau minuman bersoda. Yang Anda dapatkan hanyalah banyak kalori yang tidak berguna. Selain itu, minuman bersoda juga membawa dampak buruk bagi kesehatan sama halnya dengan merokok.
Tapi sepertinya imbauan-imbauan dari dokter atau praktisi kesehatan untuk berhenti mengonsumsi soft drink jarang didengar oleh kebanyakan orang. Tren modern seakan melekat ketika seseorang minum soft drink.
Mengapa harus berhenti minum soft drink?
Dilansir dari GeniusBeauty, Rabu (7/7/2010), berikut 5 alasan kesehatan mengapa orang harus berhenti minum soft drink:
Obesitas (berat badan berlebihan)
Peneliti di University of Texas menemukan bahwa soft drink meningkatkan risiko obesitas rata-rata 32,8 persen, sedangkan diet coke (soft drink bebas gula) justru meningkatkan risiko hingga 54,5. Maka soft drink bebas gula tak selalu sehat.
Kalori yang tak berguna
Sebagian besar minuman soda mengandung 250 kalori per 600 ml. Tak ada kandungan nutrisi atau mineral di dalamnya, melainkan hanya gula dan kafein.
Kecanduan atau adiktif
Soft drink juga dapat menyebabkan semacam kecanduan. Yang merangsang kecanduan adalah kandungan kafein di dalamnya. Setelah berhenti dari kebiasaan minum soft drink, Anda akan mengalami gejala putus zat seperti sakit kepala, depresi, gugup dan menggigil.
Meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes
Menurut sebuah laporan yang diterbitkan oleh American Heart Association di Circulation Journal pada tahun 2007, orang yang minum soft drink setiap hari akan meningkatkan risiko sindrom metabolik, yaitu suatu kondisi yang meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes, sebesar 44 persen.
Mengurangi jumlah sperma
Hasil studi di Denmark menunjukkan laki-laki yang mengonsumsi 1 liter atau lebih soft drink setiap hari bisa berbahaya bagi spermanya. Laki-laki yang sering mengonsumsi soft drink menghasilkan sperma 30 persen lebih rendah dibandingkan yang tidak mengonsumsi soft dr (mer/ir)

Selasa, 20 Desember 2011

Makna Suro_an

Kediri, PasOpati -  Suro adalah Tahun Baru menurut kalender Jawa. Berbeda dengan perayaan Tahun Baru kalender Masehi yang setiap tanggal 1 Januari dirayakan dengan nuansa pesta, orang Jawa tradisional lebih meng-hayati nuansa spiritualnya.
Pemahamannya adalah : Tanggal satu pada tahun baru Jawa diperingati sebagai saat dimulainya adanya kehidupan baru. Umat manusia dari lubuk hati terdalam manem-bah, menghormati kepada Yang Satu itu, Yang Tunggal, Yang Esa, yang mula-mula menciptakan seluruh alam raya ini dengan semua isinya, termasuk manusia, yaitu Gusti, Tuhan yang Maha Esa.
Oleh karena itu peringatan 1 Suro selalu berjalan dengan khusuk, orang membersih-kan diri lahir batin, melakukan introspeksi, mengucap syukur kepada Gusti,Yang Mem-buat Hidup dan Menghidupi, yang telah memberi kesempatan kepada kita semua untuk lahir, hidup dan berkiprah didunia ini.
Menyadari atas kesempatan teramat mulia yang diberikan oleh Sang Pencipta, maka sudah selayaknya manusia selaku titah menjalankan kehidupan didunia yang wak-tunya terbatas ini, dengan berbuat yang terbaik, tidak hanya untuk dirinya sendiri dan keluarga terdekatnya, tetapi untuk sesama mahluk Tuhan dengan antara lain melestarikan jagad ini, istilah kejawennya adalah Memayu Hayuning Bawono. Tidak salah jagad harus dilestarikan, karena kalau jagad rusak, didunia ini tidak ada kehidupan.
Pemahaman ini telah sejak jaman kabu-yutan di Jawa , dimasa kuno makuno, telah dengan sadar disadari sepenuhnya oleh para pinisepuh kita.
Perayaan 1 Suro bisa dilakukan dibanyak tempat dan dengan berbagai cara. Itu tergantung dari kemantapan batin yang menjalani dan bisa juga sesuai dengan tradisi masyarakat setempat. (isa)

Berikut jadwal  Suro_an  di Kediri:
~  Peringatan Hari besar Jawa (Suro) didesa Klanderan Kec. Plosoklaten hari Sabtu Pahing 10/12/2011 jam 19.00 wib.
~ Jowo Dipo didesa Bedali Kec. Ngancar hari Senin wage 12/12/2011.
~ Kaweruh Murtitomo Waskito Tunggal di dusun Darungan desa Punjul Kec. Ploso klaten hari Sabtu wage 17/12 jam 20.00 wib.

Kemah dan Pagelaran Wayang Kulit

Sebagai Implementasi Pendidikan Karakter Bangsa.
Kediri, PasOpati – Seiring dengan laju dan perkembangan informasi dan tehnologi, yang di ikuti dengan masuknya berbagai budaya asing, perlahan namun pasti berdampak para menurunnya rasa kebangsaan dikalangan masyarakat Indonesia.
Sejalan dengan hal itu dunia pendidikan yang selama ini digadang-gadang mampu membawa perubahan dan mampu membangkitkan rasa nasionalisme juga terlihat kewalahan menghadapi dampak negative perkembangan tehnologi modern yang merambah kedalam dunia pendidikan. Hal itulah yang mendorong SMAN I Kandangan Kediri Jawa Timur menggalang kerjasama antar instansi pendidikan sekecamatan Kandangan dan sekitarnya untuk mengadakan perkemahan bersama dan pagelaran wayang kulit.
Kegiatan tersebut dilakukan sebagai implementasi pendidikan karakter bangsa dilingkungan dunia pendidikan di kecamatan Kandangan. Seperti diungkapkan oleh Drs. Saeno selaku penanggung jawab kegiatan yang dilangsungkan pada hari Sabtu sampai Minggu (24-25/12/2011) tersebut sebagai upaya untuk menumbuhkan rasa nasionalisme kebangsaan dan kecintaan pelajar terhadap pelestarian lingkungan.
Lebih jauh Saeno menuturkan pada hari Sabtu (24/12) diadakan kemah Bhakti Pramuka yang disertai dengan kegiatan penanaman pohon oleh para panitia dan peserta untuk mendukung pencanangan penanaman satu miliar pohon yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Malam harinya diadakan pagelaran wayang kulit yang bertujuan untuk menumbuhkan cinta budaya asli daerah dikalangan para pelajar, “Saat ini para generasi muda cenderung melupakan budaya asli daerah, padahal budaya asli daerah seperti wayang kulit merupakan sarana sosialisasi yang dikemas dalam bentuk hiburan yang begitu enak ditonton maupun didengar” jelas Saeno.
Masih menurut Saeno dalam pegelaran wayang tersebut diharapkan para peserta Kemah Bersama tersebut dapat mengenali berbagai tokoh dan juga berbagai perwatak’annya, sehingga para peserta dapat mengambil contoh yang baik. Melalui pagelaran wayang tersebut berbagai pesan moral dapat disampaikan dengan lugas dan mudah diterima, seperti pentingnya menjaga lingkungan kita agar selalu bersih dan sehat, juga pentingnya menjaga bumi Indonesia ini dari kehancuran akibat tindakan semena-mena orang-orang yang tidak bertanggung jawab, “Hal itu penting untuk kita sampaikan, demi kelestarian hidup bangsa Indonesia” tegas Saeno. (spe)

Jumat, 30 September 2011

Gedung SDN di Bojonegoro Kritis

BOJONEGORO-PasOpati, Gedung SD Negeri Ngulanan I di Desa Ngulanan, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jatim rusak parah, sehingga hampir ambruk.

Seperti dikutip oleh MICOM Jum'at 30 September 2011. Kondisi tersebut puluhan siswa merasa tidak nyaman saat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Kerusakan itu hampir rata terjadi pada bangunan ruang kelas I-V. Kerusakan ini terlihat dengan banyaknya dinding tembok yang mengelupas dan retak-retak.

Kerangka serta sebagian dinding bangunan yang terbuat dari kayu dinding rapuh.Kerusakan ruangan terparah terjadi pada kelas IV. Sebab, sebagian kerangka atap bangunan mengalami rusak berat. Termasuk, plafon rungan ini juga banyak yang jebol.

Meski begitu, ruangan itu masih dipakai untuk kegiatan belajar mengajar oleh siswa dan guru.

Selain itu, kondisi lantai di semua ruangan kelas pecah dan retak. Begitu pula, kondisi gentengnya banyak yang pecah sehingga saat musim penghujan, ruangan kelas kebocoran.

"Belajar tidak tenang. Apalagi, kalau musim hujan. Takut kalau tiba-tiba ambruk," ujar siswi kelas IV, Anisa Yuliani.

Kepala SDN Ngulanan I, Siti Ihdiyati mengungkapkan, bangunan sekolahnnya terakhir diperbaiki pada 1974. Sejak saat itu hingga kini tidak kunjung ada perbaikan lagi. (OL-11)

Gedung SDN di Bojonegoro Kritis

BOJONEGORO-PasOpati, Gedung SD Negeri Ngulanan I di Desa Ngulanan, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jatim rusak parah, sehingga hampir ambruk.

Seperti dikutip oleh MICOM Jum'at 30 September 2011. Kondisi tersebut puluhan siswa merasa tidak nyaman saat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Kerusakan itu hampir rata terjadi pada bangunan ruang kelas I-V. Kerusakan ini terlihat dengan banyaknya dinding tembok yang mengelupas dan retak-retak.

Kerangka serta sebagian dinding bangunan yang terbuat dari kayu dinding rapuh.Kerusakan ruangan terparah terjadi pada kelas IV. Sebab, sebagian kerangka atap bangunan mengalami rusak berat. Termasuk, plafon rungan ini juga banyak yang jebol.

Meski begitu, ruangan itu masih dipakai untuk kegiatan belajar mengajar oleh siswa dan guru.

Selain itu, kondisi lantai di semua ruangan kelas pecah dan retak. Begitu pula, kondisi gentengnya banyak yang pecah sehingga saat musim penghujan, ruangan kelas kebocoran.

"Belajar tidak tenang. Apalagi, kalau musim hujan. Takut kalau tiba-tiba ambruk," ujar siswi kelas IV, Anisa Yuliani.

Kepala SDN Ngulanan I, Siti Ihdiyati mengungkapkan, bangunan sekolahnnya terakhir diperbaiki pada 1974. Sejak saat itu hingga kini tidak kunjung ada perbaikan lagi. (OL-11)

Kamis, 22 September 2011

19 Desa di Nganjuk Krisis Air Bersih

NGANJUK - Sebanyak 19 desa di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, krisis air, hingga warga terpaksa mengandalkan pasokan air dari PDAM untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kemarau seperti ini di daerah-daerah itu memang sulit untuk mencari air, debitnya di sungai sudah sangat kecil dan banyak sumber mata air yang kering,” kata Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Nganjuk, Gunawan Widagdo di Nganjuk, kutip surya online Kamis (15/9/2011).
Ia mengatakan 19 desa yang mengalami krisis air bersih itu tersebar di lima kecamatan, yaitu di Ngetos, di antaranya Desa Ngetos, Mojoduwur, Suru, Klodan, Blongko, dan Kepel. Kecamatan Pace ada empat desa, yaitu Joho, Jatigreges, Gondang, dan Jampes.
Di Kecamatan Ngluyu ada dua desa yaitu Tempuran dan Lengkonglor, Kecamatan Jatikalen ada lima desa, yaitu Pule, Pulowetan, Dawuhan, Perning, dan Gondangwetan. Untuk di Kecamatan Nglengkong ada dua desa yang mengalami krisis air bersih, yaitu Desa Ketandan dan Bangle.
Gunawan menyebut, daerah-daerah itu kondisinya sangat memerlukan bantuan, terutama air bersih. Mereka sudah sulit mencari air, karena debit dari sumber mata air yang keluar sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan warga serta kebutuhan lainnya.
“Kalau untuk konsumsi sendiri sebenarnya ada, tapi, mereka kan juga banyak yang mempunyai ternak, hingga debit air yang ada sudah tidak mencukupi,” ujarnya.

Warga Mrican Ngluruk Gedung DPRD

Kediri, Pasopati - Warga Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto Kota Kediri, sekitar pukul 09.45 Senin (19/9/11) mendatangi kantor DPRD Kota Kediri guna menuntut segera dibangunnya Kampus UNIBRAW Di Kota Kediri khususnya diwilayah Kelurahan Mrican.
Massa yang datang langsung menggelar orasi, mengecam DP-RD Kota Kediri yang dianggap tidak peduli dengan pendidikan. Dalam orasinya warga kelurahan Mrican mendesak dewan agar menyetujui pendirian Universitas Brawijaya di atas tanah asset Kota Kediri ex tanah sawah desa/ kelurahan Mrican Kecamatan Mojoroto sebagaimana tertuang dalam MOU antara Pemerintah Kota Kediri dengan Universitas Brawijaya Malang, Nomor : 119/23/419.16/2010 dan Nomor : 37/H.10/KS/2010 tanggal 1 De-sember 2010.
Soewarno salah satu perwakilan warga mengungkapkan, warga dan elemen masyarakat di kelurahan Mrican meminta agar DP RD segera merealisasikan atas kesepakatan yang sebelumnya sempat menjadi wacana dengan pihak UNIBRAW.
“Demo ini sebagai bentuk protes warga untuk meminta kejelasan atas wacana pembangunan Kampus Unibraw tersebut dikelurahan Mrican yang sempat menjadi tarik ulur lokasi pembangunannya, hal itu sempat digulirkan oleh beberapa kalangan oknum dewan sendiri,”tandasnya.
Sekedar diketahui tarik ulur pembangunan kampus Unibraw di Kota Kediri sempat diwacanakan akan dibangun diwilayah Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto dan Kelurahan Bangsal Kecamatan Pesantren hingga menimbulkan berbagai tanda tanya serta keresahan masyarakat Kelurahan Mrican serta tim 11 yang sebelumnya juga sempat mempertanyakan kelanjutan pembangunan kampus itu di wilayah Mrican.(isa)

Senin, 29 Agustus 2011

Konsulidasi Pengurus Dan Pembina Panji Pewarta

Kediri, PasOpati  – Adanya isu bahwa Panji pewarta pada saat ini mengalami krisis komunikasi dengan beberapa anggotanya dijawab dengan baik oleh pengurus paguyuban tersebut. Di penghujung bulan Romadhon pengurus dan pembina paguyuban wartawan Kediri Raya Panji Pewarta mengadakan konsulidasi guna membahas langkah ke depan paguyuban tersebut, acara itu diselenggarakan dengan suasana penuh kekeluargaan dan penuh haru.

Dalam acara yang dikemas buka bersama tersebut, tidak ada pembahasan secara khusus, “Agenda ini murni buka puasa bareng pembina, jadi tidak ada pembahasan secara khusus mengenai Panji Pewarta”  jelas Andhi Mahfudhi selaku ketua Panji Pewarta.

Lebih jauh Andhi memaparkan memang dalam acara tersebut ada pembicaraan mengenai langkah ke depan yang dapat di tempuh oleh Panji Pewarta, termasuk di antaranya pemantapan program Panji Pewarta namun semua itu sebatas konsulidasi biasa saja, “Tidak ada permasalahan yang sangat mendesak untuk dibahas” jelasnya.

Acara yang digelar di RM Lanny 2 tersebut berlangsung penuh keakraban dan penuh haru, mengingat kesempatan yang sangat jarang antara pembina dan pengurus paguyuban tersebut dapat berkumpul bareng.
Pembina Panji Pewarta Ronny Surono mengisyaratkan hendaknya ke depan Panji Pewarta agar lebih menajamkan program-programnya, “Dan yang lebih penting lagi agar membentuk link atau jaringan yang sangat kuat agar dapat bergerak lebih efisien” jelas Ronny Surono.

Lebih jauh Ronny Surono memaparkan, Panji Pewarta juga harus lebih selektif dan punya keberanian lebih untuk menegakan aturan baik kepada anggota maupun pengurusnya, “Jadi aturan tidak boleh rangkap anggota dengan paguyuban atau persatuan dengan organisasi yang sejenis tetap harus dijaga konsistensinya. Artinya kalau sudah menjadi anggota organisasi lain yang serupa dengan Panji Pewarta kita minta saja dengan baik-baik untuk mengundurkan diri dari Panji Pewarta” ungkap Ronny Surono. (aan)

Sabtu, 27 Agustus 2011

Puluhan Anak Di Bawah Umur Lebaran di Tahanan

Kediri, Pasopati - Lebih dari 50 anak di bawah umur di Eks Karesidenan Kediri tidak bisa merayakan hari raya Idul Fitri bersama keluarga di rumah. Pasalnya mereka harus menjalani masa hukuman di rumah tahanan.

Data dari Balai Permasyarakatan (Bapas) Kediri menyebutkan, sepanjang bulan Agustus ini ada 30 anak yang terlibat kasus hukum. Kebanyakan mereka terjerat pidana pengeroyokan. Kebanyakan dari mereka masih berstatus sebagai seorang pelajar

Kepala Bapas Kediri Syahrial Yuska mengatakan, masa tahanan mereka bervariatif, sesuai dengan kasus yang membelitnya.

Sejumlah pelajar yang terjerat kasus hukum, imbuhnya, akan terus didampingi hingga vonis pengadilan. Saat ini berkas perkara mereka berada di sejumlah kantor kejaksaan.

Selama tiga bulan terakhir, Bapas Kediri mencatat jumlah tindak pidana anak cenderung fluktuatif. Misalnya pada bulan Juni sebanyak 23 kasus. Tetapi pada bulan Juli naik menjadi 42 kasus, dan bulan Agustus turun menjadi 30 kasus. (nDol/koranmontera.com)

DPRD Kediri Kota, Menyoal Persik

Kediri, Pasopati - Kalangan DPRD Kota Kediri mempertanyakan legalitas (badan hukum, red) kesebelasan Persik Kediri. Pasalnya, meski Pemerintah Kota (Pemkot) setempat sudah mengucurkan dana milliaran rupiah, tetapi tim berjuluk Macan Putih justru belum memiliki legalitas yang terakui PSSI. Buktinya, untuk memenuhi syarat legalitas masuk ke liga profesional level I, Persik terpaksa merger dengan Minangkabau FC, peserta Liga Primer Indonesia (LPI).
" Tiga tahun lalu Persik memperoleh hibah dana melalui KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia). Anggaran itu diperuntukkan untuk mengurus legalitas Persik berupa Perseoran Terbatas (PT). Tetapi kenyatannya, Persik justru menggunakan badan hukum milik Minangkabau FC," ujar Wakil Ketua Komisi C DPRD Muzer Zaidib kutip beritajatim.com, Jumat (26/8/2011)
Informasi yang didapat, besar dana hibah yang sudah disetujui itu sekitar Rp 5 milliar. Anggaran itu diusulan dalam Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) tahun 2008 lalu.
Saat itu, Persik berkompetisi di ajang Indonesia Super League (ISL). Komisi C DPRD Kota Kediri berniat memanggil jajaran pengurus KONI untuk mempertanganya perihal itu. Saat ini, dewan tengah mengurus surat pemanggilan terhadap KONI. Terpisah, Ketua KONI Kota Kediri Heru Marwanto mengatakan, pihaknya akan segera mendalami hal tersebut.
" Kita akan cari bukti-bukti laporan terdahulu. Sebab, saya baru didefinitifkan sebagai Ketua Koni pada 2009 lalu," ungkap Heru. (sumber : beritajatim.com)

Sedekah Gudang Garam, Dikawal 750 Polisi

Kediri, Pasopati - Sebanyak 750 personil gabungan Polri, TNI dan keamanan dikerahkan untuk mengamankan pelaksanaan sedekah perusahaan rokok PT. Gudang Garam Tbk Kediri untuk para kaum duafa pada Sabtu (27/8/2011) . Untuk menghindari korban, rute pembagian dibagi menjadi 25 sekat.

Kapolres Kediri Kota AKBP Mulya Hasudungan Ritonga mengungkapkan, pihaknya telah memberi arahan untuk  memprioritaskan para ibu-ibu, dan anak-anak. Sementara waktu pembagian sedekah telah diatur sepagi mungkin

" Pukul 06.00 WIB pembagian sudah digelar. Untuk rentang waktu pembagian disesuaikan kondisi jumlah warga yang mengantri," ujar Mulya Hasudungan Ritonga.

Selain melakukan pengawalan terhadap proses pembagian sedekah, para petugas yang disiagakan juga memiliki peran dalam mewaspadai aksi kejahatan berupa, pencurian dan pencopetan

" Kami juga menggunakan pengeras suara guna menghimbau masyarakat agar berhati-hati. Mereka juga harus senantiasa waspada terhadap barang bawaan yang dibawanya," jelas Kapolres Kediri Kota. (*)

Kamis, 11 Agustus 2011

PJOK : “Kasus Ngablak Sudah Selesai”

Kapolsek : “Kasus Terus Berlanjut”

KEDIRI – Kasus perusakan saluran irigasi desa Ngablak Kecamatan Banyakan yang di bangun oleh PNPM MPd tahun anggaran 2011, di anggap sudah selesai dan tidak ada permasalahan lagi, hal tersebut diungkapkan oleh Putut Suharto PJOK PNPM MPd kecamatan Banyakan diruang kerjannya, kamis 11 Agustus 2011.
Dasar dianggap selesainya kasus tersebut karena sudah adanya kesanggupan dari pelaku ditingkat desa (TPK – red) untuk membenahi semua kerusakan. Lebih jauh Putut menuturkan karena PNPM MP merupakan program pemberdayaan maka apabila ada permasalahan yang ada didesa maka pihak pelaku ditingkat desa pula yang wajib menyelesaikan, “Kami hanya memantau saja” ungkapnya.
Ketika ditanya apakah kesanggupan membenahi bangunan yang rusak tersebut dilakukan dalam suatu Musyawarah Desa Khusus? PJOK kecamatan Banyakan tersebut meng”iya”kan namun dia lupa kapan Musyawarah Desa Khusus tersebut dilaksanakan, “Tapi yang jelas sudah dituangkan dalam berita acara” tegas Putut.
Kapolsek Banyakan : “Kasus Ngablak berjalan Terus”
Ungkapan berbeda disampaikan oleh pihak kepolisian, menurut Kapolres Kediri AKBP Heri Wahyono melalui Kapolsek Banyakan AKP Sudarminto kasus perusakan saluran irigasi dusun Bagol Desa Ngablak masih terus di proses.
AKP Sudarminto mempertanyakan dasar penghentian kasus tersebut, "hingga hari ini tidak ada dasar yang kuat untuk menghentikan Kasus tersebut" jelas Kapolsek. Lebih jauh AKP Sudarminto menuturkan kasus di dusun Bagol desa Ngablak tersebut pada saat ini dalam taraf penyelidikan, “Jadi tidak benar kasus irigasi Ngablak tersebut sudah selesai, justru saya kaget kalau ada penyataan seperti itu” tegas AKP Sudarminto. (isa)

Rabu, 10 Agustus 2011

Bangunan Saluran Irigasi PNPM MPd Ngablak Dirusak

Kediri – Bangunan saluran irigasi PNPM MPd desa Ngablak Kecamatan Banyakan Kabupaten Kediri dirusak orang tidak dikenal, pekerjaan pembangunan saluran irigasi tersebut disinyalir baru dilaksanakan sekitar 40%. Dari data yang berhasil dihimpun oleh Pasopati perusakan tersebut diketahui oleh pelaku PNPM MPd pada hari Sabtu 6 Agustus 2011 sekitar jam 7 pagi.
Ketua BKAD Kecamatan Banyakan Nur Abidin mengungkapkan kepada Pasopati Selasa 9 Agustus 2011, dia juga sudah mendengar perihal perusakan saluran irigasi desa Ngablak, “Ada beberapa sebab yang belum dapat kita ungkapkan apa motif perusakan tersebut, namun apabila ada permasalahan yang timbul dalam kegiatan PNPM biasanya didahului dengan miskomunikasi baik antara pelaku dengan pelaku lainnya maupun antara pelaku dengan masyarakat. Namun dalam kasus di Ngablak ini kami belum berani menyimpulkan apa motifnya” ungkap Abidin.
Nur Abidin lebih jauh mengakui pada saat ini pelaksanaan PNPM MPd di kecamatan Banyakan memang perlu ada pembenahan disegala bidang, menurut dia (Abidin – red) pertama kali yang harus dibenahi adalah seputar kegiatan SPP dan UEP karena tunggakan dikecamatan Banyakan menurutnya sudah mencapai tingkat mengkhawatirkan, “Kalau masalah perusakan didesa Ngablak itu kok saya kira sudah tidak ada permasalahan to, karena saya dengar sudah dibenahi”, tegas Nur Abidin.
Dari pantauan Pasopati dilapangan, Rabo 10 Agustus 2011 kerusakan saluran irigasi didesa Ngablak masih dibiarkan begitu saja dan belum ada pembenahan sama sekali. Kepala Desa Ngablak Mu’anam selaku pengendali kegiatan PNPM MPd didesanya mengungkapkan belum dapat memberikan pernyataan apapun terkait perusakan saluran irigasi tersebut karena pada saat akan dikonfirmasi kepala desa Ngablak tersebut sibuk mempersiapkan ujian tulis pengisian perangkat desanya.
Sementara itu PJOK kecamatan Banyakan Putut, ketika akan dikonfirmasi terkait perusakan saluran irigasi tersebut dia tidak ada diruang kerjanya. Namun dari informasi yang bisa diperoleh Pasopati kasus perusakan tersebut sudah dilaporkan ke Polsek Banyakan, salah satu anggota Polsek Banyakan yang enggan disebutkan namanya membenarkan masalah adanya laporan tentang perusakan tersebut kepada Polsek, “Namun lebih jelasnya silahkan konfirmasi kepada Kapolsek”, jelasnya.  (isa)


Rabu, 03 Agustus 2011

Cerita Panji Semirang

Cerita Panji merupakan cerita Jawa asli. Cerita ini timbul pada zaman Kerajaan Kediri dan Jonggala. Tetapi menurut Prof. Poerbatjaraka baru dibukukan (disalin) pada zaman Kerajaan Mojopahit. Cerita Panji dianggap bersumber dari Kakawin Smaradahana yang ditulis oleh Mpu Dharmaja. Jadi ditulis dari bahasa Jawa kuno.
Hingga sekarang Cerita Panji ini banyak macamnya. Tetapi pokok ceritanya sama, yaitu tentang Panji Semirang. Nama-nama lainnya ialah: Hikayat Panji Kuda Semirang, Hikayat Dalang Indera Kusuma, Mesa Lara Kusuma Cabut Tunggal, Mesa Urip Panji Jayalelana, Undakan Panurat, Panji Jayang Tilam, Dewa Asmara, Endang Malat, Mesa Taman Wilakusuma, Panji Wilakusuma, Cekel Waneng Pati, Jaran Kinanti Asmarandana, atau Hikayat Noyokusumo.
Di Palembang cerita ini dikenal dengan nama Anggreni. Di Bali dikenal dengan nama Malat. Dalam bentuk syair dikenal dengan nama Syair Ken Tambuhan dan Syair Panji Semirang.
Secara ringkas, cerita panji ini adalah sebagai berikut.
Raja Daha mempunyai dua orang putri. Dengan permaisurinya ia berputra seorang bernama Galuh Candra Kirana, seorang putri yang cantik, dan lemah-lembut tutur katanya membuat orang tertarik kepadanya. Seorang putri lagi bernama Galuh Ajeng, keturunan yang diperoleh atas perkawinan dengan selirnya bernama Paduka Liku. Tabiat Galuh Ajeng tidak baik dan selalu iri hati terhadap kakak tirinya, Galuh Candra Kirana. Dayang-dayang dan orang-orang istana tidak senang kepadanya.
Baginda raja mempunyai beberapa orang saudara. Seorang menjadi raja di Kahuripan dan seorang menjadi raja Gagelang, seorang lagi wanita, menjadi pertapa di Gunung Wilis dengan gelar Gandasan.
Raja Kahuripan mempunyai seorang putra yang tampan dan baik perangainya, bernama Raden Inu Kertapati. Raja Kahuripan ingin supaya putranya menikah dengan putri layaknya sebagai menantu raja. Pilihan jatuh kepada putrid saudaranya yang cantik, yaitu Galuh Candra Kirana. Dikirimlah utusan ke Daha untuk meminang, dan dengan, senang hati raja dan rakyat menerima pinangan itu. Paduka Liku sajalah yang tidak senang. Timbul maksud jahatnya menyingkirkan permaisuri serta Galuh Candra Kirana, agar ia dapat menggantikan kedudukan sebagai permaisuri dan galuh Ajeng dapat dijodohkan dengan Raden Inu Kertapati.
Pada suatu hari dibuat tapai beracun dan disuruhnya seorang dayang memberikan tapai itu kepada permaisuri. Permaisuri senang hati menerimanya, karena baru pertama kali itu Paduka Liku mengirimkan makanan untuk dia. Selain itu Paduka Liku menyuruh adiknya minta azimat (guna-guna) kepada seorang petapa sakti, agar raja sayang kepadanya.
Ketika sedang duduk santai pada sore yangsejuk, permaisuri teringat kepada tapai pemberian Paduka Liku. Disuruhnya seorang dayang mengambil tapai itu. Baru saja tapai dimakan, tiba-tiba badan permaisuri kejang, mata terbelalak dan mulutnya berbusa. Dayang-dayang menjadi panik, menangis dan Candra Kirana menjerit ketika melihat ibunya dalam keadaan demikian. Demikian pula Mahadewi, selir baginda satu lagi sangat merasa sedih atas kematian permaisuri. Tergopoh-gopoh baginda datang dan sangat marah kepada Paduka Liku atas bencana yang ditimbulkannya. Namun setelah berhadapan dengan Paduka Liku, baginda berubah sikap menjadi tenang dan tetap ramah kepadanya.
Kabar tentang wafatnya permaisuri Daha sampai ke Kahuripan. Baginda raja Kahuripan merasa kasihan kepada Candra Kirana atas nasibnya itu. Untuk menghiburnya Baginda ingin mengirimkan bingkisan kepada calon menantunya. Raden Inu Kertapati disuruh membuat dua buah boneka. Satu dari emas dan satu lagi dari perak. Boneka. Emas dibungkus dengan kain biasa, dan boneka perak dibungkus dengan sutera yang indah. Setelah bingkisan tiba di Daha, Baginda menyuruh Galuh Ajeng memilih lebih dahulu. Karena tamaknya diambilnya bungkusan sutera dan yang berbungkus jelek diberikan kepada Candra Kirana.
Betapa gembira Candra Kirana setelah membuka bungkusan ternyata yang didapatkanriya adalah boneka emas yang berkilau-kilauan. Ditimang-timangnya boneka itu dan selalu dibawanya ke mana ia pergi. Akhirnya Galuh Ajeng mengetahui bahwa boneka kakaknya jauh lebih bagus dan ia ingin memilikinya. Atas bujukan Paduka Liku, Baginda menyuruh Candra Kirana agar menukarkan boneka itu dengan boneka Galuh Ajeng. Karena Candra Kirana tidak mau menyerahkan bonekanya, Baginda menjadi marah. Candra Kirana diusir dan terhuyung-huyung dituntun Mahadewi ke peraduannya, bersama para dayang dan pengasuh.
Keesokan harinya, menjelang subuh Candra Kirana dan pengiring-pengiringnya meninggalkan istana pergi tanpa tujuan. Di perbatasan antara Daha dan Kahuripan, menetaplah mereka, membangun kerajaan kecil dan dengan persetujuan dayang-dayang dialah yang menjadi rajanya. Untuk itu mereka harus menyamar sebagai pria dan ia sendiri mengganti nama dengan Panji Semirang. Untuk memperkuat kerajaan mereka melakukan perampokan dan memaksa semua orang yang ditahan menetap di tempat itu. Dengan demikian rakyat makin bertambah dan kerajaan makin kuat.
Berita tentang kerajaan Panji Semirang sampailah ke Kahuripan. Pada waktu utusan raja Kahuripan membawa barang-barang dan uang emas kawin untuk meminang Galuh Candra Kirana, mereka dicegat dan dirampok tentara Panji Semirang. Barang rampasan dan uang hanya akan dikembalikan apabila Raden Inu Kertapati datang menghadap Panji
Semirang.
Betapa heran dan takjub Raden Inu Kertapati memandang Panji Semirang, seorang raja yang menarik, simpatik, cantik, dan suaranya lembut merdu. Diadakanlah jamuan di istana Panji Semirang untuk menyambut kedatangan Raden Inu Kertapati. Keesokan harinya, setelah semua barang dan uang dikembalikan, berangkatlah Raden Inu Kertapati beserta rombongan meneruskan perjalanan ke Daha menyerahkan uang jujuran (mas kawin) kepada raja Daha.
Betapa sedih hati Panji Semirang memikirkan kekasihnya akan melangsungkan pernikahan dengan Galuh Ajeng di Daha. Karena itu ia memutuskan hendak pergi menjumpai bibinya, Biku Gandasari, di Gunung Wilis dengan berpakaian wanita, untuk minta nasihat. Biku Gandasari sangat terharu mendengar cerita dan derita kemenakannya itu. la menganjurkan supaya Candra Kirana pergi ke Gagelang ke tempat pamannya. Karena itu kembali Candra Kirana dan rombongan berpakaian laki-laki dan menyamar sebagai pemain gambuh (pengamen) dengan nama Gambuh Warga Asmara. Mereka berkeliling dari kota ke kota sambil ngamen. Sampailah ke Gagelang. Semua orang menyenangi permainan Gambuh Warga Asmara.
Sejak hari penama pernikahan Raden Inu Kertapati dengan Galuh Ajeng, ia menjadi pendiam, sedih hati, karena diketahuinya bahwa istrinya itu bukanlah Galuh Candra Kirana. Ia merasa tertipu oleh Paduka Liku. Betapa ingin hatinya berjumpa dengan Candra Kirana kekasihnya yang dicintainya. 'Untuk menghibur hatinya ia memutuskan
berangkat ke kerajaan pamannya di Gagelang. Para pengiringnya mengatakan bahwa di Gagelang ada rombongan pemain gambuh yang baik penampilannya. Usul itu dipenuhi karena memang Raden Inu merasa ingin hiburan.
Betapa menarik dan mengharukan permainan gambuh itu dan Inu Kertapati curiga melihat gerak-gerik para pemain gambuh yang luwes bagai wanita. Bahkan ia merasa telah pernah melihat wajah-wajah mereka. Karena hari telah larut malam, maka rombongan itu disuruh menginap di dalam kraton di puri pesantren. Di tempat peristirahatannya Candra Kirana mengenakan pakaian wanita karena rindu kepada kekasihnya, ditimang-timangnya boneka emasnya sambil menyanyikan lagu yang merawankan hati.
Raden Inu Ketapati ingin sekali mengetahui anggota Gambuh Warga Asmara yang sebenamya, dengan mengintip di tempat peristirahatan mereka. Alangkah terkejutnya ia setelah melihat seorang putri menimang-nimang boneka emas yang pemah diberikannya kepada Candra Kirana. Tanpa ragu lagi ia memastikan bahwa sebenamya wanita itulah Candra Kirana yang sedang dicarinya. Dengan hati yang tak sabar lagi pintu kamar dibukanya dan bertemulah keduanya melepaskan rasa rindu, kasih, dan mesra yang telah lama terpendam.
Candra Kirana dibawanya ke istana Kahuripan dan menyampaikan kepada Baginda apa sebenamya yang telah terjadi. Candra Kirana minta maaf atas kekeliruan yang telah diperbuatnya. Dipersiapkanlah segala sesuatu untuk upacara pernikahan resmi antara Raden Inu Kertapati dengan Galuh Candra Kirana.
Paduka Liku menjadi kecut hatinya tatkala mendengar berita itu. Raja Daha pun tak mau memperhatikannya lagi. Ia menyuruh adiknya untuk minta guna-guna kepada pertapa yang pernah diminta pertolongannya dulu. Tetapi sayang di tengah perjalanan adiknya itu disambar petir dan meninggal dunia. Paduka Liku putus asa lalu bunuh diri.***

Sunlife Finance Rangkul Para Usahawan Kediri.

Kediri – Sunlife finance pada hari Selasa 2 Agustus 2011 melakukan presentasi dengan para usahawan Kediri di Hotel Grand Surya. Perusahaan finance yang telah berkembang diberbagai kota besar di Indonesia mengajak masyarakat Kediri untuk merencanakan berbagai kebutuhan hidup saat ini dan masa mendatang lebih profesional dan lebih matang disetiap detil perencanaannya.
Perlu diketahui Hingga 31 Maret 2011, tingkat Risk Based Capital (RBC) Sun Life Financial Indonesia adalah 346 persen (konvensional dan syariah) – telah jauh melampaui ketentuan minimal Departemen Keuangan sebesar 120 persen, dengan aset Rp 4,33 triliun. Saat ini sunlife menyediakan berbagai produk inovatif melalui lebih dari 38 kantor penjualan di 25 kota di Indonesia.
Sun Life Financial Indonesia merupakan bagian dari Sun Life Financial, salah satu organisasi keuangan terkemuka di dunia. Didirikan pada 1865 dan berkantor pusat di Toronto, Kanada, Sun Life Financial beroperasi di berbagai pasar kunci di seluruh dunia.
Dalam sambutannya Ronny Suwono, selaku Asistant Distrik Manager Kediri, mengajak para audien untuk melihat berbagai peluang usaha dan merencanakan berbagai kegiatan yang akan dating menuju ke arah yang lebih baik. Hal senada diungkapkan oleh Aswin pemateri dari Jakarta, “Kita harus pandai membaca berbagai perkembangan yang terjadi pada saat ini dan akan dating, agar kita dapat bertahan” jelas Aswin. (isa)

Rabu, 27 Juli 2011

Polda Larang Ormas Sweeping Tempat Hiburan Malam

Surabaya - Polda Jatim melarang keras aksi sweeping tempat hiburan malam yang dilakukan organisasi masyarakat (ormas) pada saat bulan Ramadan. Apabila aksi sweeping tetap dilakukan, Polda Jatim akan memberikan sanksi keras.


"Oh itu (sweeping) tidak boleh. Dilarang keras ormas-ormas mengambil tindakan kepolisian," kata Kabid Humas Polda Jatim, Selasa (26/7/2011).

Kombes Pol Rachmat Mulyana mengatakan, yang mempunyai kewenangan dan pemeriksaan adalah kepolisian. Jika ada ormas yang bertindak sendiri dan melanggar aturan, pihaknya tidak segan-segan memberikan tindakan tegas.

"Ini saya sampaikan, mana kala ada ormas yang bertindak di luar aturan, akan kita tindak tegas. Siapapun ormasnya," jelasnya.

Selasa, 26 Juli 2011

Polda Larang Ormas Sweeping Tempat Hiburan Malam

Surabaya - Polda Jatim melarang keras aksi sweeping tempat hiburan malam yang dilakukan organisasi masyarakat (ormas) pada saat bulan Ramadan. Apabila aksi sweeping tetap dilakukan, Polda Jatim akan memberikan sanksi keras.

"Oh itu (sweeping) tidak boleh. Dilarang keras ormas-ormas mengambil tindakan kepolisian," kata Kabid Humas Polda Jatim, Selasa (26/7/2011).

Kombes Pol Rachmat Mulyana mengatakan, yang mempunyai kewenangan dan pemeriksaan adalah kepolisian. Jika ada ormas yang bertindak sendiri dan melanggar aturan, pihaknya tidak segan-segan memberikan tindakan tegas.

"Ini saya sampaikan, mana kala ada ormas yang bertindak di luar aturan, akan kita tindak tegas. Siapapun ormasnya," jelasnya.

Minggu, 24 Juli 2011

Pemdes Manyaran Bagi Baju Batik

Kediri – Kepala Desa Manyaran Tumidjan ( Om Cey ) pada hari Rabo, 13 Juli 2011 melakukan sosialisasi lanjutan tentang Alokasi Dana Desa (ADD) dibalai Desa Manyaran Kecamatan Banyakan.
Hal itu dilakukan sebagai tindak lanjut atas telah terealisasinya 30% ADD tahun Anggaran 2011, selain dilakukan sosialisasi tentang penggunaan anggaran ADD juga di adakan penjelasan tentang pengalokasian berbagai anggaran yang telah masuk  desa Manyaran hingga bulan Juli ini.
Di akhir acara pihak Pemerintah Desa Manyaran membagikan seragam berupa baju batik kepada RT, RW, BPD, tokoh dan Perangkat Desa. Anggaran untuk pengadaan baju batik tersebut di ambilkan dari dana retribusi PBB desa Manyaran pada tahun 2011. D ungkapkan oleh Om Cey, “Sudah waktunya RT, RW, BPD dan perangkat mendapat perhatian dari desa, namun saya harap pembagian baju ini jangan dilihat dari nilainya tapi kita berharap dapat dilihat dari niatan kami untuk memberi perhatian pada mereka”, tegas Om Cey. (isa/supe)

Warta Pasopati News Sebelumnya

  © PASOPATI Online ...Berita Informatif.Dan . Akuntabel

Ke : HALAMAN UTAMA